Selasa, 29 April 2008

Mengapa Sholawat

Subhan_Allah by Sighing quietly

"Eid Mubarak" by muslimz


Mengapa harus sholawat
Oleh
Ustadzah Dzuriyatul Farihah Spd
Pengasuh
Pondok Pesantren

“MANBAUL QUR’AN”
Sukosono,
Jepara



Semakin manusia mempunyai adab/tatakrama, semakin pandai seorang hamba bersyukur itulah salah satu tanda yang paling utama keluhuran budi manusia.
Tertarik membaca artikel Nurull Hudha Bellina Mahasisa Fakultas Seni Rupa [UNY] yang mengakhiri tulisannya dengan suatu ajakan antara lain :

Ibu, mari kita senantiasa memperbaiki diri, tekun mengkaji, dan berusaha menjadi hamba AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa yang shalihah sehingga dapat mendidik anak-anak yang kelak menjadi penolong agama AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Ilmu merupakan pemelihara iman, maka selain menumbuhkan keimanan dalam jiwa anak, bekali pula mereka dengan ilmu sehingga mereka menjadi generasi-generasi mu’min yang kokoh.

Bukankah Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW, sebagai pendidik dan perantara utama bagi pengetahuan dan keimanan hamba hamba AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa
Berdasarkan logika tersebut, Beliau merupakan “Kekasih” pilihan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa yang paling besar jasanya memberikan contah akhlak yang mulia.


Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung
68. Al Qalam [68] : 4


Dalam kontek membalas jasa dan berterimakasih kepada Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW, maka AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa memerintahkan bersholawat untuk Beliau. Dan
perlu diingat bahwa perintah bersholawat bukan inisiatif atau kehendak pribadi Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW, akan tetapi bersumber dari Firman AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa


Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[1230].

[1229] Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad.
[1230] dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai nabi.
QS. Al Ahzab [33] : 56


Apa yang tersurat dalam Al Qur’an, jika kita pandai membaca apa yang tersirat niscaya hamba AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa akan selamat dunia dan akhirat, amin


Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.
QS. Muhammad [47] : 2


Insya Allah, penulis akan selalu medampingi redaksi airmatamursid dan memberikan masukan dan semoga bermanfa’at buat diri pribadi penulis juga pembaca yang dicintai AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa.
selain itu penulis tidak akan mengupas secara detail “mengapa harus sholawat” tak lupa semoga langkah kita selalu mendapat ridlo, amin.

Senin, 28 April 2008

Ibu dan anak

" green muslim women " by Nurull Hudha Bellina


"Yoruba Wedding_Muslim Women by ademmm



IBU YANG BAIK MENCETAK ANAK YANG BAIK

Oleh
Nurull Hudha Bellina


Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa
Universitas Negeri Jogjakarta
Tingkat akhir




Ketika melihat seorang anak yang perilakunya kurang baik, orang lain cenderung berpendapat bahwa itu merupakan pengaruh pola asuh orang tua yang kurang tepat, dan sering kali perilaku anak dianggap sebagai cermin pribadi orang tuanya.

Ternyata, pendapat tersebut bukan sekedar pernyataan yang bisa dipandang sebelah mata, akan tetapi benar-benar perlu kita perhatikan karena sesuai dengan Sabda Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW. bahwa :

”Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci.
Ayah ibu-nyalah yang kelak menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”
HR. Bukhari


Dapatlah kita pahami bahwa ayah dan ibu mempunyai peran yang sangat penting dalam proses perkembangan dan pembentukan pribadi anak, pola asuh dari kedua orang tua-lah yang akan menuntun perilaku anak ke arah kebaikan atau justru sebaliknya.
Kriteria manusia yang paling baik menurut Allah telah tersurat jelas dalam firman_Nya
AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa


“...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu...”
QS.Al-Hujuraat [49] : 13


Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, namun Allah Swt membekali setiap diri dengan pendengaran, penglihatan, dan hati supaya dipergunakan untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan keesaan-Nya.


“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur
QS. An-Nahl [16] : 78


Ketika seseorang bersungguh-sungguh mempergunakan potensi tersebut untuk memahami tujuan hidupnya, kemudian ia menjalani dan mengisi kehidupan dengan amal sholeh, itulah jalan orang yang bertaqwa, dan itulah yang kelak menyelamatkannya dari siksa api neraka.


“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”
QS Al-A’raaf [7] : 179


Allah Maha Mengenal dan Maha Mengetahui. Dia sangat mengerti bahwa manusia dengan berbagai kekurangannya tidak akan mampu menemukan dan menjalani keimanan tanpa petunjuk dari-Nya. Maka Allah memberikan dua hal kepada manusia yang jika ia mengikutinya, maka ia akan jauh dari kesesatan, sebagaimana yang tertulis dalam firman_Nya
AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata"
QS.Ali Imran [3] : 164


Al-Qur’an adalah rahmat bagi umat manusia yang akan menuntunnya ke jalan keimanan. Maka dalam hal ini orang tua harus memperkenalkan dan menanamkan kecintaan dan pemahaman yang lurus terhadap Al-Qur’an pada anak, karena inilah sumber ilmu terbaik yang diberikan oleh Allah Swt.
Allah telah memberi amanah kepada setiap hamba AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa


”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
QS. At-Tahrim [66] : 6


Setiap manusia mempunyai kewajiban untuk memelihara diri dan keluarganya dari kesesatan yang mengarah pada siksa api neraka dengan mengikuti atau mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Kemudian dalam hal ini dapat kita ambil pengertian bahwa kehadiran orang tua diperlukan untuk senantiasa mendampingi dan mengarahkan tiap langkah perkembangan anak, memahamkannya pada Al-Qur’an sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang bertaqwa.
Allah memberi amanah kepada ’orang-orang yang beriman’, artinya bukan hanya ibu tapi juga ayah.
Porsi kehadiran seorang ayah bukan sebagai pencari nafkah saja, akan tetapi ayah pun memiliki peran penting dalam pendidikan dan pengasuhan anak, bahkan dapat dikatakan setara dengan peran ibu, hanya sedikit berbeda kadar kualitas dan kuantitasnya.

Demikian penting hubungan ayah dan anak hingga Allah menamai salah satu surat dalam Al-Qur’an dengan nama seorang ayah yang begitu piawai mendidik anaknya, nasehat-nasehat yang disampaikan pada sang anak tertulis jelas dalam QS. Luqman sehingga kita pun dapat mengambil pelajaran daripadanya. Meskipun demikian, mari kita ingat kembali hadist berikut ini:

Dari abu Hurairah ra, dia menceritakan, ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Saw seraya bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab: “Ibumu” Orang itu bertanya lagi: “Lalu siapa?”, “Ibumu” jawab beliau. “Lalu siapa lagi?” Tanya orang itu. Beliau pun menjawab: “Ibumu”. Selanjutnya bertanya: “Lalu siapa?”, beliau menjawab: “Bapakmu”.
HR. Bukhari-Muslim


Sebelumnya telah dikatakan bahwa peran kedua orang tua dalam mendidik anak hampir setara, tapi mengapa Rasulullah Saw begitu mengutamakan ibu? Sebenarnya hal tersebut terkait erat dengan faktor qudwah, yaitu figur, panutan, atau teladan. Dibandingkan dengan ayah, ibu biasanya lebih banyak mengisi waktu bersama anak. Ibu yang biasa mendampingi anak dalam setiap aktivitasnya, dan ibu juga yang menyediakan setiap keperluannya.
Maka wajar jika intensitas pertemuan tersebut membuat figur ibu begitu melekat dalam hati si anak. Anak belajar dari teladan yang ditampilkan oleh lingkungan, lebih banyak memahami dan melakukan sesuatu dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang disampaikan kepada mereka.
Ketika kita jumpai seorang ibu menyuruh anaknya untuk makan sambil duduk tetapi sang anak tetap tidak mau, boleh jadi karena beberapa kali ia pernah melihat ibunya makan sambil berdiri atau bahkan sambil jalan, sehingga diminta berapa kali pun sang anak tidak akan menurut.
Jika ada anak yang sudah cukup besar tetapi tidak mau memakai pakaian dan sepatunya sendiri, boleh jadi karena ibunya selalu melakukan hal-hal tersebut untuknya dan kurang memberi kesempatan padanya untuk mencoba melakukan sendiri, sehingga ia terbiasa dibantu. Anak-anak memang baru mengetahui sedikit hal, tapi mereka bukan sulit memahami (kecuali dalam kasus tertentu). Anak-anak justru mempunyai kemampuan untuk mempelajari suatu hal dengan sangat cepat, maka mari kita perhatikan akhlaq kita, karena disengaja maupun tidak, apa yang tampak dari diri kita akan ditiru oleh si buah hati.

Otak anak berkembang hingga mencapai perkembangan 80% dari sempurna ketika anak berusia 5 tahun, tinggal 20% lagi perkembangan otak yang masih bisa dioptimalkan selama sisa usianya. Artinya, pengalaman; lingkungan; pola asuh; pola didik; dan pola hidup yang dialami pada 5 tahun awal kehidupan amat besar pengaruhnya pada pembentukan pribadi seseorang.

Dalam hal ini wanita atau ibu adalah sumber belajar anak yang pertama dan utama, sehingga bagaimana pribadi anak terbentuk sangat dipengaruhi oleh bagaimana ibu mengkondisikan anak untuk menerima stimulasi-stimulasi perkembangan yang ibu berikan, tentu saja berbagai stimulasi harus diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak pada usianya supaya timbul dampak yang optimal. Ibu yang shalihah akan senantiasa berusaha mengenalkan dan mendekatkan anak pada Allah, berusaha supaya anak memiliki hati yang lembut sehingga mudah menerima kebenaran, sehingga kelak mereka termasuk dalam golongan manusia yang baik sesuai kriteria yang Allah tetapkan. Manusia-manusia bertaqwa inilah yang akan membawa kebaikan di muka bumi, sebagaimana firman AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa


“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”
QS.Al-A’raaf [7] : 96


Ibu, mari kita senantiasa memperbaiki diri, tekun mengkaji, dan berusaha menjadi hamba AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa yang shalihah sehingga dapat mendidik anak-anak yang kelak menjadi penolong agama Allah Swt. Ilmu merupakan pemelihara iman, maka selain menumbuhkan keimanan dalam jiwa anak, bekali pula mereka dengan ilmu sehingga mereka menjadi generasi-generasi mu’min yang kokoh.

Belajar menulis




BELAJAR MENULIS
Oleh
Istikharoh


Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis
Universitas Islam Negeri Sunankalijaga
Jogjakarta

Ya Robb
perkenankanlah hamba menulis Firman MU
dengan jari jemariku
Ya Robb
hamba latihan belajar menulis Al Qur'an,
Ya Robb perkenankanlah
sesungguhnya hamba hanya mencari ridlo MU
jika hamba salah niat dalam mengawali menulis
ampuni hamba Ya Robb

Minggu, 27 April 2008

Bertemu Kekasih

"Aqsa" by Sultanmahmood

"Allah" by Sighing quietly

Bertemu Kekasih
Oleh

Yuliana PP


Alumni Jurusan Aqidah Filsafat
Fakultas Usulludin
Universitas Islam Negeri Sunankalijaga
Jogjakarta




“Wahai engkau yang tersenyum lebih manis dari madu, sesungguhnya bertemu denganmu adalah jawaban dari setiap pertanyaan” [Maulana Rumi dalam Masnawai]

Si Pecinta adalah “hamba” yang mempunyai naluri untuk mencintai, dalam artikel ini penulis tidak akan mengupas secara linguistic [bahasa] tentang si pencinta [hamba], karena penulis sadar bahwa tidak punya kemampuan untuk hal itu, akan tetapi penulis mencoba untuk memberikan interpretasi atas kecintaan dari si pencipta [hamba]. Semoga hal ini bisa memberikan faedah bagi para pecinta dan yang sedang mengalami jatuh cinta, terlebih sebagai wujud cinta kepada “Sang Kekasih” Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW.

Rasa cinta pada dasarnya merupakan naluri dasar yang dianugerahkan oleh “Sang Pencipta” AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa , kepada setiap hamba_Nya. Bahkan binatang yang diklaim sebagian orang sebagai makhluk tanpa akal budi juga memiliki naluri “cinta” Kita amati induk ayam yang akan selalu menjaga anak_anaknya yang masih kecil dari gangguan makhluk yang akan mencederai karena naluri rasa cinta, tidak luput binatang buas pun mempunyai naluri rasa cinta, melindungi kepada anak_anaknya. Subhanallah.

Demikian pula manusia manusia sebagai makhluk paling rasional memiliki akal budi yang lebih mampu menerjemahkan “makna” cinta pada proporsinya, namun demikian tidak sepenuhnya akal budinya berfungdi dengan baik jika tidak didasari dengan kesadaran “primordial” yang telah diterapkan dalam Firman Nya.
Bukankah sejak zaman azali manusia telah mengadakan perjanjian primordial [meminjam istilah Cak Nur Almarhum] dengan Sang Pencipta



Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Al A'raaf [7] : 172


Karena itu sudah sewajarnya setiap manusia mempersembahkan rasa cinta kepada_Nya.
Rasa cinta yang mendasar adalah ketika seorang mampu menerjemahkan cinta itu dalam perilakunya. Bukankah cinta kepada_Nya berarti juga mencinta kekasih_Nya ? Sang “Khairul Anam” putra “Abdullah” bin Abdul Mutholib adalah hamba yang mendapat sampur kekasih pilihan_Nya. Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW, beliaulah pemangku kesempurnaan yang dianugerahkan oleh_Nya. Jadi sudah sewajarnya setiap manusia yang merasa mencintainya_Nya juga mencintai kekasih_Nya, yakni Al Amin yang terpercaya.

Mencintai Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW. Bukanlah suatu hal yang bersifat “teoritis” tapi “realistis”. Bukankah mencintai kekasih juga berarti siap berkorban untuknya. Apapun akan diberikan si pencinta agar bias bersua dengan yang dicintai.

Alangkah indah hidup bila senantiasa bersua dan bersama dengan yang dicintai. Namun apalah daya saat ini bukanlah zaman Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Muhammad SAW, maka tiada mungkin pada saat ini berkumpul bersamanya. Namun demikian rasanya bersua dengan beliau pun serasa sudah memenuhi dahaga untuk berkumpul bersama meski hanya lewat “mimpi”. Tak berlebihan kiranya bila ibn ‘Araby melukiskan suatu keindahan yang tida terhingga pada saat kekasih menampakkan diri kepada yang mengasihi

“ La insu yasfigfiu lilgalby illa”
Idza tajalla lahu al habibu”

“Tak satupun keindahan yang mampu menghibur hati, selain”
ketika kekasih menampakkan diri

Demikian pula kecintaan kepada Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Muhammad SAW akan terasa terobati dikala si pecinta mampu bersua dengannya mesti hanya lewat mimpi, sehingga segala penantian tidak terasa sia sia tatkala keinginannya tercapai.

Hidup si pencinta akan terasa lebih berarti dengan tercapainya keinginan bersua dengan yang dicinta, bahkan jika boleh memilih si pencinta tidak ingin berpisah dengan yang dicintainya.

Bukankah Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW pernah mengajarkan bahwa seorang pecinta yang bermimpi bertemu dengannya akan teruraikan segala k3esulitannya dan terselesaikan pula segala persoalannya.

Betapa Maha Agung dan Welas asih Sang Pencipta “AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa”. Rasa cinta yang dimiliki si pecinta “hamba” benar benar dirasuki rasa cinta yang dalam kepada kekasihNya Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Muhammad SAW.

Bahkan ibn ‘Araby lebih lanjut mengajarkan do’a bagi si pecinta tentang keagungan cinta yang yang dipanjatkan kepada “Sang Pencipta Cinta” AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa

Harga cinta adalah “tak pernah berakhir dan tak ada obatnya”
Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kerinduan
Akan cinta bukan rasa cinta itu
Agar aku menikmati kebahagiaan

Si pecinta akan senantiasa merasakan kerinduan yang mendalam kepada yang dicintainya. Bahkan dengan mengingatnya si pecinta akan lebih berharga dan bersemangat dalam menghadapi kehidupannya mesti tanpa bersua dengannya.

Apapun yang dilakukan si pecinta akan lebih berarti tatkala didasari akan ingatan kepada yang dicintai. Demikian pula segala hal yang didasarkan pada kecintaan akan Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW, sungguh akan terasa indah, bahkan yang tersulit apapun akan terasa mudah tatkala ingatan kepada kekasih menghiasi setiap langkahnya.
Dalam setiap langkah tiada pernah lepas lisan dan hatinya
menyebut kekasih yang dicintai’
Ya Nabi,
Ya Rasul,
Engkaulah rembulan
hamba merindukan pencerahan di malam gulita
Engkaulah pembawa lentera penerang kedalam jiwa tiap hamba
Setiap hamba mengharap cinta
Lantunan Salawat dan do’a keselamatan atasmu
Tiada cukup mengobati rasa rindu kepadamu.
Namun senantiasa menyebut namamu setiap nafasku
Bersamaan pula menyebut Asma_Nya
Rasa rindu serasa mengobati kerinduanku padamu,
Harapan dan sederet do’a senantiasa hamba lantunkan
Setiap permohonan kepada MU Ya Robb
Suatu sa’at hamba dapat bersua dan berkumpul
Dengan kekasih di kehidupan yang abadi
Bukankah Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa
Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW
Pernah memberikan rasa “bahagia” kepada si pencinta
Bahwa mereka akan dikumpulkan dengan hamba yang dicintai
“anta man ahbabta”
Dengan mencintai Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa
Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW
Semoga Sang Pencipta rasa cinta yakni AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa
Akan mengumpulkan kita dengan ……
Rasul utusan AllaaHh Shub-HanaHhu wa ta’aalaa
Nabi Agung Sayyidina Muhammad SAW
Pada kehidupan yang abadi kelak
Amin.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[1230].

[1229] Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad.
[1230] dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai nabi.
QS. Al Ahzab [33] 56

Santri asal Kota Ukir Jepara


Nota : http://www.airmatamursid.blogspot.com/ sedikit merubah format [tidak merubah arti] agar mudah difahami “awam”

Jumat, 25 April 2008

QS.At Taubah [9] :122

Mursid Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqshabandiyyah Al Utsmaniyyyah
Hadrotusy Syeikh Ahmad Asrory Al Ishaqi


ILMU
oleh

Rifda Muftiyyah
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunankalijaga
Jurusan Ilmu Perpustakaan & Informasi
Tingkat akhir



Dalam kenyataan manusia sangat membutuhkan ilmu, sebelum manusia mendambakan mengenal ataupun mencintai Allah
Kita harus terlebih dahulu mencermati seperti apa yang ditulis
oleh Ustadzah Dzuriyatul Farihah Spd Pengasuh Pondok Pesantren “MANBAUL QUR’AN Sukosono, Jepara
Beliau menulis dalam website ini dengan judul [Takdir Mu’allaq] tertulis sebagai berikut
……. sekarang kita mulai mencoba mencermati rahasia yang tersurat dalam AlQur’an dan sebagai hamba Allah kita mulai belajar membaca sesuatu yang tersirat dari titik menuju titik hingga kita berharap deretan titik itu dapat menjadikan garis lurus hingga kita mampu mencinta Allah SWT.

Penulis ingin menyampaikan dan menganalisa apa yang ditulis beliau adalah “manusia” sebelum mendambakan mengenal dan mencintai Allah terlebih dahulu harus mempelajari ilmu agama sehingga hatinya menjadi ta’at, menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarangan oleh Allah dan Rasul.

Setelah manusia ta’at baru mulai belajar dengan rahasia yang terkandung dalam rahasia batinnya, jika penulis sampaikan dengan kata yang lugas manusia harus bertaubat terlebih dahulu, hingga minimal dapat mengenali “hawa nafsu” yang melekat didalam hati dan pokok permasalahan ini seperti perjalanan musafir, perjalanan yang panjang tersebut hanya mencari “ridho” Allah

Untuk perjalanan yang panjang tersebut manusia butuh guru/mursid, sesungguhnya manusia tidak dapat berjalan sendiri untuk menggapai dapat mencintai Allah, seperti yang penulis tulis dalam website ini dengan judul Dzurriyah Bissabab.

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
QS.At Taubah [9] : 122

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS. Al Mujaadilah [58] : 11

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
Al A'raaf [7] : 176

Semoga apa yang penulis utarakan dengan singkat dalam website airmatamursid.blogspot.com bermanfa’at untuk penulis pribadi dan semoga bermanfa’at untuk orang lain, amin.
Penulis ucapkan terimakasih kepada airmatamursid yang telah menjalin hubungan baik kepada kami, semoga silaturohim ini mendapat ridho Allah, amin

Kamis, 24 April 2008

QS.Al A'raaf [7] : 57

"Iskamic World" by Sultanmahmood
Brother, your religion and photography inspires me, thank



Maghrib
Oleh
Latifatul Muthi

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunankalijaga
Jurusan Matematika






kuning keemasan
bola merah bersembunyi
malu pada lembutnya angin
gemercik hembusannya
aku memandang sore yang tersenyum
dibalut getar dawai mata
keraguan menyelinap
bangunkan kekasih
sebut namaMU tentramkan hati
pasrah jiwa tak tertahan
do’a bibir hiasi maghrib
Ya Roob…… maghrib
benar…… benar maghrib





Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
QS. Al A’raaf [7] : 57

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya
QS.Hijr [15] : 22

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], padahal kamu mengetahui.
QS.Al Baqarah [2] : 22

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
QS. Al Baqarah [2] : 21

kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan[105] dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.
QS. Al Baqarah [2] : 160



Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.
QS. Al Israa' [17] : 24


(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
QS. Ar Ra’d [13] :28



Note : Uthi, thank you



Rabu, 23 April 2008

QS. Ali Imran [3] : 38


DevID by CanEyeballsBounce by Muslim Women



PAGI YANG CERAH
Oleh
Latifatul Muthi

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunankalijaga
Jurusan Matematika




pagi yang cerah
dingin merayap sumsum
senyum manis menyambut
aku dendangkan keangkuhanku
keikhlasan teruji dengan kemalasan
aku berlindung hanya kepada MU
aku mohon dengan cintaku
Ya Robb, sampaikan bakti untuk keluargaku
di depan tungku kehangatan
pagi yang cerah


Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."
QS. Ali Imran [3]: 38


Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
QS. Al Baqarah [2] : 177

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
QS. An Nisaa’ [4] : 36